Jakarta, Jika ada anggota keluarga yang terinfeksi hepatitis C jangan panik dulu. Risiko penularan dalam satu keluarga sangat kecil bahkan hampir tidak ada. Virus ini juga tidak menular melalui bersin, batuk, makanan, air atau kontak biasa.
Hepatitis C adalah penyakit infeksi hati menular yang mematikan. Kenapa? Karena gejalanya yang hampir tidak tampak dari luar sehingga disebut sebagai silent killer. Hingga kini belum ada vaksin yang bisa mencegahnya. Bahkan seseorang yang mencukur rambut atau jenggot pun berisiko terkena virus tersebut.
Hepatitis C merupakan salah satu jenis infeksi virus pada hati yang mengakibatkan peradangan dan kerusakan hati dan jika sudah parah bisa berujung pada kerusakan hati, sirosis (pengerasan) hati, kanker hati dan kematian.
Infeksi Virus Hepatitis C (VHC) sering disebut sebagai infeksi terselubung atau silent infection karena infeksi dini virus ini tidak bergejala sehingga dianggap sepele dan terlewatkan. Banyaknya orang yang tidak terdiagnosis menyebabkan risiko tertular pada orang lain pun menjadi besar.
Bahkan menurut Prof. Dr. H. Ali Sulaiman, PhD, SpPD-KGEH, Hepatitis C bukan sekedar silent infection tapi juga silent killer. Sebanyak 80 hingga 90 persennya tidak menunjukkan gejala apapun hingga tiba-tiba terdeteksi pada saat check up, dan itu pun kebanyakan sudah memasuki fase kronis atau akut.
"Kebanyakan ditemukan pada saat check up untuk calon pegawai. Semua kaget dan tidak percaya waktu tahu dirinya terinfeksi. Bahkan mereka yang terdiagnosis dalam fase sirosis (pengerasan hati) hanya 10 persen yang bisa hidup selama 1 tahun. Biasanya sebelum menjadi kanker hati sudah keburu meninggal," ujar Ali. Jika sudah masuk stadium sangat parah dan komplikasi, gejalanya bisa perut buncit, kaki bengkak dan mata kuning. Penderita juga mudah capek dan ingin tidur terus.
Penularan virus ini terjadi melalui darah (blood-borne), biasanya karena transfusi darah, pemakaian jarum yang tidak steril, hubungan seks, tindik badan, tato, bahkan seseorang yang dicukur rambut atau jenggotnya pun bisa terkena virus mematikan tersebut.
"Kita tidak pernah tahu apakah alat yang dipakai untuk mencukur itu pernah melukai seseorang yang terinfeksi Hepatitis C atau tidak dan dibersihkan atau tidak. Kalau saya selalu membawa alat cukur sendiri ke tukang cukur biar lebih steril dan bersih," ujar Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Dr. Unggul Budihusodo, SpPD-KGEH dalam acara Seminar Permasalahan Hepatitis C di Indonesia yang digelar di Hotel Gran Melia, Jakarta, Selasa (29/9/2009).
Tapi kabar baiknya, virus ini tidak menular di lingkungan keluarga, jadi bila ada 1 orang di keluarga yang terkena virus ini, kemungkinan anggota lainnya terkena sangat kecil. Bahkan suami istri pun risiko tertularnya rendah. Virus ini juga tidak menular melalui bersin, batuk, makanan, air atau kontak biasa.
"Jadi kalau mau peluk-pelukan atau cium-ciuman nggak apa-apa," imbuh Unggul. Kelompok yang berisiko tinggi terkena virus ini adalah pemakai narkoba suntik, pasien hemofilia, pasien cuci darah, laki-laki homoseksual, tenaga medis yang terkontaminasi dan pasien yang menjalani pengobatan medis gigi dengan alat yang tidak steril.
Pendataan Hepatitis C
Saat ini Indonesia sudah bisa melakukan pendataan Hepatitis C secara nasional. Sebelumnya Pendataan Hepatitis C belum spesifik sehingga penderita pastinya tidak diketahui, padahal Hepatitis C adalah penyakit hepatitis paling ganas diantara penyakit hepatitis lainnya sehingga perlu difokuskan lebih dalam.
Program pendataan itu pun bertujuan untuk membantu program pengembangan surveilans untuk menangani penyakit Hepatitis C. Dengan adanya pendataan yang terkomputerisasi dan terintegrasi, jumlah penderita VHC bisa dipantau dan diadakan evaluasi setiap 3 bulan sekali dan dicari penanggulangannya yang paling efektif. Hingga saat ini baru sekitar 15.736 orang yang terdata dengan program ini, padahal WHO memprediksi ada 7 juta penderita hepatitis C di Indonesia.
Program yang sebelumnya dikembangkan oleh PT Roche Indonesia selama 2 tahun itu saat ini diserahkan sepenuhnya pada Departemen Kesehatan RI dengan menunjuk 137 unit kesehatan (rumah sakit, laboratorium dan unit transfusi darah) di 21 propinsi di Indonesia, dengan menyediakan tes anti VHC agar setiap orang bisa melakuan tes Anti VHC sedini mungkin.
(Dikutip dari detik.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar