Selasa, 17 November 2009

The Ugly Truth - Kebenaran: Hadapi atau Hindari?

Hollywood memang gudangnya film drama komedi. Setelah kesuksesan The Proposal dan Confession of a Shopaholic, pada Juli lalu, Lakeshore Entertainment mengeluarkan film drama komedi terbaru mereka, the Ugly Truth. Diperankan oleh Katherine Heigl dan Gerard Butler, film ini dikemas dengan cukup manis dan ringan, layaknya popcorn yang selalu menjadi teman setia kala menonton film.
Image
Seperti film komedi romantis khas Hollywood, The Ugly Truth tidak lepas dari kisah dua orang yang menghabiskan waktu mereka untuk berdebat dan saling menjatuhkan. Abby Richter (Katherine Heigl) adalah seorang produser sebuah acara bincang-bincang pagi. Ia mendapatkan tekanan dari bosnya untuk menaikkan rating acara yang dipimpinnya. Ketika ia sedang mencari cara, perusahaannya mempekerjakan Mike Chadway (Gerard Butler) sebagai pengisi acara The Ugly Truth—di mana Abby berperan sebagai eksekutif produser.

Image    

Betapa kesalnya Abby mengetahui bahwa Mike-lah yang akan bekerja sama dengannya. Abby memiliki dendam pribadi kepada Mike karena Abby merasa Mike adalah pria vulgar yang gemar membesar-besarkan fakta tentang hubungan pria dan wanita. Bagi Abby—yang memiliki pandangan terlalu “lurus” dan kolot, Mike hanyalah seorang pria brengsek yang menilai sebuah hubungan hanya dari kontak fisik saja. Ditambah, Abby sangat tidak bisa menerima saat Mike menyebutkan “wanita jelek yang putus asa”.
  
Kebencian Abby terhadap Mike justru membuat Mike semakin tertarik untuk menggoda Abby. Dengan gayanya yang “nakal”, ia terus berusaha membuka percakapan dengan Abby. Namun, bukan perdamaian yang mereka dapatkan, melainkan anggapan  Abby atas Mike sebagai pria vulgar yang hobi bermain wanita.
Image  
Hubungan keduanya membaik ketika Abby akhirnya memutuskan untuk mempercayakan hubungan cintanya kepada Mike. Collin (Eric Winter), dokter tampan yang tinggal di sebelah rumah Abby, mencuri hati Abby. Maka, Mike mempertaruhkan karirnya di perusahaan tersebut untuk membuktikan bahwa teori-teorinya selama ini bukan omong kosong belaka.
  
Maka, mulailah Mike membantu Abby untuk menjadi wanita idaman setiap pria. Ia memperbaiki gaya berpakaian, tatanan rambut, sampai cara berpikir Abby. Semua usaha itu berhasil, Abby dan Collin berpacaran. Namun, saat melihat Abby dan Collin berciuman, Mike terdiam. Tanpa disadari, Mike jatuh cinta kepada Abby.
Image
  
Lalu, apakah Abby akan menyadari perubahan yang terjadi pada sahabatnya? Apa yang dilakukan Abby saat mengetahui Mike memutuskan untuk pindah ke stasiun televisi lain? Lalu, apakah Abby akan mengaku kepada Collin bahwa identitasnya selama ini hanyalah ciptaan seorang pria vulgar idiot?

The UGLY Truth
  
Kebenaran memang selalu menimbulkan masalah. Bagi para pasangan, kadangkala salah satu pihak memilih untuk membuat “white lie”, daripada harus menceritakan kebenaran yang dapat membuat sebuah hubungan hancur berantakan.
  
Topik ini mungkin yang ingin diangkat oleh Luketic. Menggunakan genre yang cukup populer di kalangan masyarakat, Luketic ingin mengantarkan pesan bahwa kebanyakan kebenaran terlalu jelek untuk dapat diterima dengan lapang dada.
  
Tokoh yang sangat berperan dalam menyampaikan pesan ini adalah Mike Chadway. Dengan gayanya yang cuek dan sembarangan, Mike berusaha menyampaikan fakta-fakta mengenai hubungan antara pria dan wanita—yang sayangnya dibantah habis-habisan oleh Abby. Bagi seorang dreamer seperti Abby, ia selalu percaya bahwa sebuah hubungan bisa dijalani tanpa harus memikirkan penampilan luar. Bagi Abby, pangeran sempurna impiannya pasti akan datang suatu saat nanti.
  
Namun, semuanya berubah ketika Abby sadar bahwa hubungannya bersama Collin hanyalah sebuah lelucon. Ketertarikan Abby kepada Collin membuat Abby harus berpur-pura menjadi orang lain. Di sini, kesetiaan dan komitmen diuji. Apakah Collin akan tetap mencintai Abby saat Abby mengaku bahwa ia seorang control freak? Apakah Collin akan tetap menerima Abby saat dia mengetahui bahwa selama ini Abby menyambung rambutnya agar terlihat lebih panjang dan terkesan seksi? Kebenaran yang diungkap Abby bukanlah sebuah pengakuan yang enak didengar—dan juga pantas diterima dan diacungi jempol.

Setia dengan Plot Sederhana
  
Hollywood sedang giat membuat film bergenre drama romantis. Mungkin kesimpulan tersebut tidak terlalu berlebihan jika kita lihat film-film keluaran Hollywood yang sedang diputar di bioskop Indonesia saat ini. Namun, bagi kaum hawa, film dengan genre ini akan menjadi sebuah tontonan yang selalu menarik: wanita cantik dengan karir mapan, bertemu pangeran impian di tempat dan waktu yang tidak terduga, lalu cerita berakhir bahagia.
  
Begitu pula plot yang terdapat dalam film The Ugly Truth. Anda tidak akan bisa berharap lebih dari sebuah film drama romantis khas Hollywood yang—Anda sudah pasti tahu—berkisar pada hal yang itu-itu saja. Akting Heigl dan Butler pun bisa dikatakan pas-pasan—jika dibandingkan dengan akting Sandra Bullock dan Ryan Reynold di The Proposal. Namun, minat masyarakat Hollywood pada film ini tetap tinggi. Buktinya, The Ugly Truth berhasil bertengger di posisi ketiga Box Office setelah Harry Potter and the Half-Blood Prince dan G-Force.
  
Di balik semua fakta tersebut, film ini menyisakan sebuah pesan mendalam mengenai esensi dari sebuah hubungan.Tidak perlu bersusah payah untuk menjadi orang lain untuk mendapatkan orang yang kita cintai. Justru, orang yang dapat menerima kita apa adanya adalah sosok yang patut kita hargai dan pertimbangkan. Kadang, kita sibuk menjadi orang lain untuk membahagiakan orang-orang di sekitar kita, tanpa tahu kalau itu semua justru akan membuat kita tidak bahagia. So, be someone that truly YOU and you’ll find your happiness soon.

Tanggal rilis : 24 Juli 2009 (USA)
Genre : drama komedi
Durasi : 96 menit
Sutradara :  Robert Luketic
Pemain : Katherine Heigl, Gerard Butler, Bree Turner, Eric Winter, Cheryl Hines, John Michael Higgins
Produser : Katherine Heigl, Karen McCullah Lutz, Kirsten Smith, Tom Rosenberg
Produksi :  Lakeshore Entertainment

Author : Lucky Natalia

Search